Pusat Penelitian Biologi-LIPI

Fungsi Ekologis dan Ekonomis Bambu

Published: 06 December 2021

Last Updated: 06 December 2021

Cibinong, Humas BRIN. Bagi Anda yang tinggal di Cibinong hingga Depok, kemungkinan familiar dengan bapak-bapak yang memanggul kursi atau bale bambu di pundaknya sambil berjalan kaki. Si pengrajin bambu memang masih menjajakan produk bambunya tersebut secara konvensional dengan berkeliling di sejumlah perumahan Cibinong, Bedahan, Tugu Timur hingga Sawangan.

Profil pengrajin bambu Biologi inilah yang diangkat pada Program Redaksi Sore di Stasiun TV CNN Indonesia pada Sabtu (04/12). Di sela-sela tayangan berita hangatnya, segmen liputan khas bertajuk “Sehari Menjadi Pengrajin Bambu” tak hanya menampilkan si pengrajin bambu tapi juga menghadirkan I Putu Gede Parlida Damayanto, M.Si., Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Putu menjelaskan bahwa bambu bukan hanya menghasilkan secara ekonomis bagi penduduk tapi juga bermanfaat bagi lingkungan sekitar yaitu fungsi ekologisnya. “Kadang kala orang lupa bambu bisa mencegah erosi atau sebagai tumbuhan pemula di suatu kawasan yang tidak ada hutannya atau tidak ada pohon sama sekali,” jelas Peneliti Ahli Muda Botani. Pusat Riset Biologi BRIN ini. “Ingin reboisasi tetapi menanam pohon mungkin tidak akan bertahan pohonnya, jadi bisa di tanam bambu dahulu,” tambah Putu.

Pengrajin bambu yang menjadi lokus liputan adalah Kampung Gelonggong, Kedung Waringin, Kecamatan Bojong Gede, Bogor, Jawa Barat. Terdapat 15 kelompok perajin bambu di sini. Apalagi pada awal tahun 2000-an hampir seluruh penduduk kampung Gelonggong berprofesi sebagai pengrajin bambu, namun kini tersisa segelintir orang saja, penyebabnya adalah tidak kuat menghadapi gempuran perabot rumah tangga modern, sehingga terpaksa gulung tikar.

Di kampung Gelonggong, ribuan bambu dapat tumbuh subur karena ditanam dan tumbuh di tepi Sungai Ciliwung. Di tempat ini ada 5 hektar lebih lahan bambu yang dimiliki warga setempat. Biasanya diatas umur satu tahun bambu sudah bisa diolah menjadi kursi duduk.

Sebagai informasi bambu juga merupakan suatu tanaman dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Sistem perakaran rizoma yang unik dapat tumbuh sepanjang 60 cm bahkan 100 cm dalam waktu 24 jam tergantung pada jenis tanah dan iklim habitatnya. Pada prosesnya, seluruh bambu yang diambil dari kebun, tidak bisa digunakan langsung. Bambu dikeringkan terlebih dulu selama 3 hari hingga seminggu.

Cara membuat produk bale bambu, yaitu: Biologi Pertama, bambu yang sudah kering dipotong sesuai ukuran yang diinginkan. Untuk kaki-kaki biasanya berukuran 60 cm dan panjang 1-2 ½ meter. Sedangkan untuk satu kursi membutuhkan 3-4 batang bambu.

Setelah bambu dipotong lalu dibuat lubang sebagai alas bambu menjadi delapan bagian, kira-kira selebar 2-3 cm. Lantas dicuci bersih menggunakan sabun untuk menghilangkan serabut kecil dan kotoran. SeBiologi belum dijual bale bambu dipelitur atau dipernis hingga menimbulkan tekstur khas bamboo hingga layak jual.  

Satu bale bambu dijual dengan harga Rp. 150 ribu - Rp. 300 ribu. Para penjual biasanya berjalan kaki hingga Depok. “Apabila bale bambu belum laku juga, maka pengrajin bambu akan menitipkan bale bambunya ke seorang warga di Sukaraja, Kabupaten Bogor untuk bantu menjualkan. Meski keuntungan yang diraih tidak sebesar menjual langsung ke warga, namun cara ini menjadi suatu siasat agar produk kerajinan bambu tetap dapat terjual,” ungkap Zaenal salah seorang pengrajin sekaligus pengrajin bambu keliling. (shf ed sl)Peran dan Strategi Pusat Riset Biologi BRIN sebagai Pusat Rujukan Nasional Kehati Indonesia

Published: 15 November 2021

Last Updated: 15 November 2021

Cibinong, Humas BRIN. Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Hayati (OR-IPH), ikut serta menyukseskan rangkaian pameran virtual Ritech Expo 2021 Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) BRIN yang berlangsung pada tanggal 10-13 November 2021. Pada Sabtu (13/11), seluruh Kepala Pusat Riset (Pusris) OR-IPH tampil secara bergantian dalam webinar bertema “Biodiversitas Indonesia: Strategi BRIN dalam Menjawab Permasalahan Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Mewujudkan Potensi Pemanfaatannya Bagi Pemulihan Ekonomi Nasional”.

Plt. Kepala OR-IPH BRIN, Iman Hidayat, membuka acara dengan menegaskan bahwa sebagai negara megadiversitas terbesar di dunia dengan potensi sumber daya genetik yang luar biasa, sudah menjadi menjadi kewajiban kita semua agar sumber daya genetik ini bisa bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan kesejahteraan masyarakat.

Sementara Anang Setiawan Achmadi, Kepala Pusris Biologi menyampaikan tentang “Peran dan Strategi Pusat Riset Biologi BRIN sebagai Pusat Rujukan Nasional Kehati Indonesia.” Tugas dan fungsi dalam pelaksanaan tugas teknis litbangjirap, serta invensi dan inovasi di bidang Biologi. Selain itu Pusris Biologi juga memberikan bimbingan teknis dan supervisi, pelaksanaan kerja sama, pemantauan, evaluasi dan pelaporan,” imbuh Anang.

Dirinya juga menjelaskan jumlah koleksi ilmiah fauna MZB. “Berdasarkan data internal hingga tahun 2019 mencapai 2.792.611 spesimen, yang terdiri dari 2.593.860 spesimen serangga dan arthopoda, dan 5.383 spesimen krustasea. Koleksi Herbarium Bogoriense mencapai 945.465 koleksi yang terdiri dari tumbuhan berbiji, jamur, tumbuhan berspora, alga dan koleksi lainnya. Sedangkan koleksi InaCC sebanyak 5,676 koleksi daan 15.129 kegiatan riset dan pengembangan koleksi, “ rinci Anang.

“Isu strategis mengacu pada pengungkapan keanekaragaman Indonesia dan ekosistemnya, mitigasi keanekaragaman hayati, pemanfaatan keanekaragaman Indonesia (bioprospeksi/bioekonomi), penguatan kebijakan terkait sumber daya hayati, pusat koleksi referensi nasional kehati Indonesia, serta pengelolaan dan penguatan sistem informasi data dan dokumentasi kehati Indonesia, “ jelas Anang.

Sebagai penutup Anang menjelaskan tentang proses bisnis Pusris Biologi dan strategi penelitian tahun 2022 pada empat kelompok penelitian, yaitu: Eksplorasi dan Inventarisasi Biodiversitas Indonesia, Kajian Potensi dan Valuasi Biodiversitas Indonesia, serta Konservasi dan Kebijakan. (Iks ed sl)Status Jamur Polypore di Indonesia

Published: 14 October 2021

Last Updated: 14 October 2021

Cibinong, Humas BRIN. Indonesia merupakan negara tropis dengan keanekaragaman hayati yang tinggi, termasuk ragam jamur. Namun sayang spesies jamur makro Indonesia yang dilaporkan masih sangat minimal. “Berdasarkan data, terdapat  829 spesies jamur makro Indonesia dari filum Basidiomycota. Jamur makro  terbanyak adalah ordo Polyporales, disusul ordo Agaricales. Pada tingkat famili, Polyporaceae dan Ganodermataceae merupakan dua famili dengan jumlah spesies terbanyak. Namun, tidak ada artinya jika keanekaragaman hayati ini tidak mampu diterapkan di bidang lain seperti lingkungan, pertanian, pangan dan obat-obatan untuk meningkatkan kesejahteraan,” ungkap Anang Setiawan selaku Kepala Pusat Riset Biologi BRIN saat memberi sambutan pada The 4th International Workshop on Mushroom Biology and Technology bertema Macro fungi for Science, Environment, Agriculture, Food and Medicine, Rabu (13/10) secara virtual.

Anang berharap workshop yang diselenggarakan bekerjasama dengan Universitas Tottori dapat menjadi media diskusi, berbagi ilmu, dan memperluas networking baru. “Workshop ini bertujuan untuk mendorong pengembangan ilmu jamur di  Asia dan untuk berbagi praktik terkini tentang teknologi jamur dan membangun kemitraan di antara para pemangku kepentingan di Indonesia maupun di negara-negara Asia,” imbuhnya.

Dalam kesempatan tersebut, salah satu keynote speaker, Dewi Susan, Peneliti Jamur bidang Botani dari Pusat Riset Biologi berkesempatan memaparkan materi tentang Status Jamur Polypore di Indonesia.

Susan menjelaskan Polypore adalah kelompok jamur makro yang mudah dibedakan dari jamur lain. “Dikatakan jamur berpori karena polypore berasal dari dua kata yaitu poly dan pore yang berarti memiliki banyak pori. Polypore mirip dengan boletes, tetapi tidak memiliki tangkai yang jelas. Selain itu, polypore tidak mudah dipisahkan dari sisa jamur, berbeda dengan boletes yang mudah dikeluarkan dari konteksnya,” ungkap Susan.

Polypore memainkan peran penting dalam ekosistem alami. “Jamur ini berfungsi sebagai pengurai kayu, mendaur ulang nutrisi dan mineral di dalam kayu dan melepaskannya dalam jangka waktu yang lama,” ungkap Susan.

Susan menambahkan beberapa spesies Polypore dianggap sebagai patogen penting pada pohon hidup. Saat ini jumlah spesies polypore Indonesia paling tinggi dibandingkan jamur lain. Selain itu, spesies yang termasuk dalam famili Polyporaceae merupakan spesies yang paling banyak tercatat di Indonesia.

Comments

Popular posts from this blog

Gempa Tersebut Pukul 16.08 Wib, Jawa Timur Diguncang, Berikut Informasi Terkini Dari Bmkg - Tribunmanado.co.id

Buy Our Natural Face, Body & Eye Serums Online - Biologi